Tri Mumpuni – Berawal dari Keprihatinan

2011
03.01

tri mumpuni.jpgNama Tri Mumpuni tidaklah asing bagi masyarakat Indonesia dan mungkin dunia sekarang ini. Namanya muncul seiring dengan keprihatinannya ketika melihat kondisi rakyat pedesaan yang seolah tidak mengenal peradaban. Puni (panggilan akrabnya) memang seringkali jalan-jalan ke pedesaan seperti Jawa Barat, Kalimantan, dan lainnya.

Puni pun terketuk hatinya ketika melihat secara langsung kehidupan yang berlangsung di pedesaan. Puni yang melihat kehidupan di pedesaan sungguh mencemaskan. Bagaimana tidak kalau di desa tersebut belum mendapat aliran listrik. Kita bisa dibayangkan betapa gelapnya ketika malam sudah tiba.
Tetapi seketika itu Puni juga sadar. Bahwa desa yang belum mendapat aliran listrik bisa saja terjadi karena memang amat sangat terpencil. Sebutlah Dusun Palanggaran dan Cicemet, enclave di Gunung Halimun, Sukabumi, Jawa Barat. Untuk bisa sampai ke sana tidak bisa dilalui dengan kendaraan. Jangan roda empat, roda dua pun terasa amat sangat sulit.
Menuju ke tempat tersebut tidak boleh tidak harus berjalan kaki selama 9 jam. Bisa juga naik motor roda dua tetapi rodanya harus diberi rantai. Jika tidak sangat mustahil bisa sampai ke desa terpencil tersebut. Pasalnya, jalan hanya setapak, itu pun licin.
Ketika melihat secara langsung, seketika itu Puni terketuk hatinya untuk membangun aliran listrik untuk menerangi dusun tersebut. Puni pun berusaha mencari jalan keluarnya. Melalui IBEKA (Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan), lembaga swadaya masyarakat yang didirikan pada 17 Agustus 1992 bersama suaminya, Iskandar Budisaroso Kuntoadji, Puni mulai menyusun strategi jalan keluarnya.
Dengan proposal, Puni “berjualan” konsep. Dalam proposal terdapat rencana teknik dan rencana anggaran biaya. Proposal tersebut dibawa ke mana-mana termasuk kedutaan besar. Ternyata proposal tersebut banyak mendapat sambutan dari Kedutaan Besar Jepang.

“Kami memang tidak pernah menggunakan dana Anggaran Pendapat dan Belanja Negara (APBN) karena sistem APBN tidak mengakomodasi proses pemberdayaan masyarakat. Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 80 Tahun 2003 mengharuskan adanya tender. Tidak mungkin rakyat kecil mengakses,” ujar Tri Mumpuni.

Bangun Kesadaran

Ketika sudah mendapatkan dana, Puni mulai mendatangi kembali desa/dusun tersebut. Awal mula Puni bersama suaminya bertemu dengan tokoh masyarakat setempat dan mengutarakan maksud dan tujuannya. Ketika terjadi kesepakatan Puni mulai bekerja.
Pertama kali yang dilakukan Puni dan suaminya adalah membangun kesadaran tentang pentingnya penerangan bagi kehidupan. Ia menyadarkan mereka (masyarakat) bahwa pembangkit listrik itu milik mereka dan karena itu mereka harus memeliharanya dengan baik bukan hanya turbinnya tetapi juga kontinuitas aliran air sepanjang tahun.

Dalam membangun kesadaran Puni melakukannya di semua tempat. Kalau masyarakatnya terdiri dari orang-orang Kristiani, maka tempatnya di gereja. Sebaliknya, kalau masyarakatnya terdiri dari komunitas Muslim, maka tempatnya di masjid. Bahkan bisa pula di rumah adat seperti di Kalimantan.
Setelah kesadaran terbentuk, Puni dan suaminya kemudian membentuk tim. Tujuannya tidak lain agar jika sudah terbangun pembangkit listrik ada yang bertanggung jawab terhadap kelestariannya. Tim ini pula yang terus-menerus memantau jalannya mesin microhydro (turbin) tersebut dan jalannya air sepanjang tahun.

Selain itu, tim ini juga bertanggung jawab atas biaya yang…

Â

Tim ini pula yang terus-menerus memantau jalannya mesin microhydro (turbin) tersebut dan jalannya air sepanjang tahun.


Pertama kali yang dilakukan Puni dan suaminya adalah membangun kesadaran tentang pentingnya penerangan bagi kehidupan.

Â

…harus dibayar pelanggan sebagai dana abadi dan dana itu untuk memelihara pembangkit listrik itu. Karena itu, Puni dan suaminya membentuk ketua, bendahara, sekretaris, sampai orang yang bisa bongkar-pasang mesin sebagai operator.

Ternyata mereka sangat antusias dengan arahan dan rencana pembangunan tersebut. Setelah mereka mahir mengoperasikannya, Puni dan suaminya secara perlahan-lahan mulai meninggalkan desa tersebut untuk kemudian mencari desa terpencil lain yang belum mendapat aliran listrik.
Desa Krueng Kala, Kecamatan Lhoong, Aceh Besar merupakan salah satu sekian banyak yang berhasil diterangi listrik oleh Puni dan suaminya. Masyarakat desa ini tidak sedikit pun menyumbang untuk listrik tersebut. Begitu juga Puni dan suaminya. Masyarakat desa Krueng Kala Aceh Besar tersebut mendapat aliran listrik berkat lembaga swadaya internasional yang membantunya dengan proyek Cash for Work. Orang dibayar Rp 50.000-100.000 sehari untuk mengangkut batu dan membersihkan sampah di rumah mereka sendiri.

Berbeda dengan desa Krueng Kala, dusun Palanggaran di Sukabumi tempat awal Puni berkarya, sama sekali tidak mendapat bantuan dari manapun. Awalnya masyarakat masih susah dimintai iuran. Namun setelah enam bulan berlalu, Puni kembali lagi ke Dusun Palanggaran. Hal tak disangka pun terjadi. Di desa tersebut sudah memiliki kas sebesar Rp 23 juta. “Padahal, sebelumnya sulit sekali menentukan uang langganan karena mereka merasa tidak punya uang,” kenang Puni.

Lalu yang menakjubkan lagi, ada aturan baru desa yang melarang menebang pohon apa pun dalam jarak 50 meter di kiri dan kanan sungai. Mereka pun menanam pohon buah-buahan supaya bisa dapat hasil dari buah itu.

Hingga sekarang Puni dan suaminya sudah menerangi 60 lokasi dengan tenaga microhydronya. Bagi alumnus IPB ini listrik bukan tujuan utamanya, tetapi bagaimana membangun potensi desa supaya mereka berdaya secara ekonomi dan lainnya. Dengan begitu, mereka bisa mengenali peradabannya dan membangun peradabannya.

Berkat belas kasih dan konsernya Puni sudah mendapat beberapa penghargaan dari pemerintah dan lembaga internasional, seperti Climate Hero dari World Wildlife Fund for Nature (2005), Fellow Ashoka (2006), tokoh Pengembangan Energi Terbarukan dan Penghematan Energi (2007), dan Pendekar Lingkungan Hidup RI (2008).

Semoga ada Tri Mumpuni lain yang berkomitmen terhadap desa terpencil. Selamat kepada Tri Mumpuni dan suaminya, anak bangsa yang akan mengenangmu sepanjang masa. (Yanto Bashri )

Pengasuhan Neonatus

2011
03.01

Penelitian menunjukkan bahwa 50% kematian bayi terjadi pada periode neonatal, yaitu saat bulan pertama kehidupan, di mana periode neonatal merupakan periode yang paling kritis dalam fase pertumbuhan dan perkembangan bayi. Kurang baiknya penanganan bayi baru lahir yang sehat akan menyebabkan kelainan-kelainan yang mengakibatkan cacat seumur hidup, bahkan kematian.

Sebagai contoh, bayi yang mengalami hipotermia akan menyebabkan hipoglikemia dan akhirnya dapat terjadi kerusakan otak jika kondisi tersebut tidak diatasi dengan tepat. Percegahan merupakan hal terbaik yang harus dilakukan dalam penanganan neonatal agar neonatus menjadi individu yang dapat menyesuaikan diri dan dapat bertahan dengan baik dari kehidupan intrauterin ke kehidupan ekstrauterin. Itulah sebabnya diperlukan pengetahuan yang baik mengenai adaptasi fisiologis pada bayi baru lahir dari tenaga kesehatan khususnya bidan, yang selalu memberikan pelayanan kesehatan bagi ibu, bayi, dan anak.

Kisah Sol SEpatu

2011
03.01

Mang Udin, begitulah dia dipanggil, seorang penjual jasa perbaikan sepatu yang sering disebut tukang sol. Pagi buta sudah melangkahkan kakinya meninggalkan anak dan istrinya yang berharap, nanti sore hari mang Udin membawa uang untuk membeli nasi dan sedikit lauk pauk. Mang Udin terus menyusuri jalan sambil berteriak menawarkan jasanya. Sampai tengah hari, baru satu orang yang menggunakan jasanya. Itu pun hanya perbaikan kecil.

Perut mulai keroncongan. Hanya air teh bekal dari rumah yang mengganjal perutnya. Mau beli makan, uangnya tidak cukup. Hanya berharap dapat order besar sehingga bisa membawa uang ke rumah. Perutnya sendiri tidak dia hiraukan.

Di tengah keputusasaan, dia berjumpa dengan seorang tukan sol lainnya. Wajahnya cukup berseri. “Pasti, si Abang ini sudah dapat uang banyak nich.” pikir mang Udin. Mereka berpapasan dan saling menyapa. Akhirnya berhenti untuk bercakap-cakap.

“Bagaimana dengan hasil hari ini bang? Sepertinya laris nich?” kata mang Udin memulai percakapan.

“Alhamdulillah. Ada beberapa orang memperbaiki sepatu.” kata tukang sol yang kemudian diketahui namanya Bang Soleh.

“Saya baru satu bang, itu pun cuma benerin jahitan.” kata mang Udin memelas.

“Alhamdulillah, itu harus disyukuri.”

“Mau disyukuri gimana, nggak cukup buat beli beras juga.” kata mang Udin sedikit kesal.

“Justru dengan bersyukur, nikmat kita akan ditambah.” kata bang Soleh sambil tetap tersenyum.

“Emang begitu bang?” tanya mang Udin, yang sebenarnya dia sudah tahu harus banyak bersyukur.

“Insya Allah. Mari kita ke Masjid dulu, sebentar lagi adzan dzuhur.” kata bang Soleh sambil mengangkat pikulannya.

Mang udin sedikit kikuk, karena dia tidak pernah “mampir” ke tempat shalat.

“Ayolah, kita mohon kepada Allah supaya kita diberi rezeki yang barakah.”

Akhirnya, mang Udin mengikuti bang Soleh menuju sebuah masjid terdekat. Bang Soleh begitu hapal tata letak masjid, sepertinya sering ke masjid tersebut.

Setelah shalat, bang Soleh mengajak mang Udin ke warung nasi untuk makan siang. Tentu saja mang Udin bingung, sebab dia tidak punya uang. Bang Soleh mengerti,

“Ayolah, kita makan dulu. Saya yang traktir.”

Akhirnya mang Udin ikut makan di warung Tegal terdekat. Setelah makan, mang Udin berkata,

“Saya tidak enak nich. Nanti uang untuk dapur abang berkurang dipakai traktir saya.”

“Tenang saja, Allah akan menggantinya. Bahkan lebih besar dan barakah.” kata bang Soleh tetap tersenyum.

“Abang yakin?”

“Insya Allah.” jawab bang soleh meyakinkan.

“Kalau begitu, saya mau shalat lagi, bersyukur, dan mau memberi kepada orang lain.” kata mang Udin penuh harap.

“Insya Allah. Allah akan menolong kita.” Kata bang Soleh sambil bersalaman dan mengucapkan salam untuk berpisah.

Keesokan harinya, mereka bertemu di tempat yang sama. Bang Soleh mendahului menyapa.

“Apa kabar mang Udin?”

“Alhamdulillah, baik. Oh ya, saya sudah mengikuti saran Abang, tapi mengapa koq penghasilan saya malah turun? Hari ini, satu pun pekerjaan belum saya dapat.” kata mang Udin setengah menyalahkan.

Bang Soleh hanya tersenyum. Kemudian berkata,

“Masih ada hal yang perlu mang Udin lakukan untuk mendapat rezeki barakah.”

“Oh ya, apa itu?” tanya mang Udin penasaran.

“Tawakal, ikhlas, dan sabar.” kata bang Soleh sambil kemudian mengajak ke Masjid dan mentraktir makan siang lagi.

Keesokan harinya, mereka bertemu lagi, tetapi di tempat yang berbeda. Mang Udin yang berhari-hari ini sepi order berkata setengah menyalahkan lagi,

“Wah, saya makin parah. Kemarin nggak dapat order, sekarang juga belum. Apa saran abang tidak cocok untuk saya?”

“Bukan tidak, cocok. Mungkin keyakinan mang Udin belum kuat atas pertolongan Allah. Coba renungkan, sejauh mana mang Udin yakin bahwa Allah akan menolong kita?” jelas bang Soleh sambil tetap tersenyum.

Mang Udin cukup tersentak mendengar penjelasan tersebut. Dia mengakui bahwa hatinya sedikit ragu. Dia “hanya” coba-coba menjalankan apa yang dikatakan oleh bang Soleh.

“Bagaimana supaya yakin bang?” kata mang Udin sedikit pelan hampir terdengar.

Rupanya, bang Soleh sudah menebak, kemana arah pembicaraan.

“Saya mau bertanya, apakah kita janjian untuk bertemu hari ini, disini?” tanya bang Soleh.

“Tidak.”

“Tapi kenyataanya kita bertemu, bahkan 3 hari berturut. Mang Udin dapat rezeki bisa makan bersama saya. Jika bukan Allah yang mengatur, siapa lagi?” lanjut bang Soleh. Mang Udin terlihat berpikir dalam. Bang Soleh melanjutkan, “Mungkin, sudah banyak petunjuk dari Allah, hanya saja kita jarang atau kurang memperhatikan petunjuk tersebut. Kita tidak menyangka Allah akan menolong kita, karena kita sebenarnya tidak berharap. Kita tidak berharap, karena kita tidak yakin.”

Mang Udin manggut-manggut. Sepertinya mulai paham. Kemudian mulai tersenyum.

“OK dech, saya paham. Selama ini saya akui saya memang ragu. Sekarang saya yakin. Allah sebenarnya sudah membimbing saya, saya sendiri yang tidak melihat dan tidak mensyukurinya. Terima kasih abang.” kata mang Udin, matanya terlihat berkaca-kaca.

“Berterima kasihlah kepada Allah. Sebentar lagi dzuhur, kita ke Masjid yuk. Kita mohon ampun dan bersyukur kepada Allah.”

Mereka pun mengangkat pikulan dan mulai berjalan menuju masjid terdekat sambil diiringi rasa optimist bahwa hidup akan lebih baik.

Wanita adalah lambang kesuksesan

2011
03.01

Wanita adalah mahluk ciptaan Tuhan yang memiliki karakter penuh kelembutan. Sebelumnya konsep wanita tradisional sangatlah sederhana, dimana peran utamanya melayani suami dan membesarkan anak-anak mereka. Seiring berjalannya waktu, peran ini mulai mengalami  ketimpangan, karena wanita dituntut untuk mampu berperan ganda di abad modern ini.

Dengan latar belakang tersebut, wanita yang mampu mendobrak konsep tradisional adalah wanita yang dipastikan dapat menjadi seorang inspiratif dan memiliki pola yang terstruktur.

Perempuan dapat menjadi sebuah lambang kesuksesan, yaitu memiliki kepribadian yang kokoh, membangun karisma yang akan menjadi daya pengaruh yang kuat. Selain itu memiliki pola pikir yang maju sebagai wanita karir, menjaga kebahagiaan keluarga dan lingkungan.

2011
02.23

We have another changes to success…

It’s Real time for everyhting

2011
02.23

Kembali berbicara tentang IPB…Ini postingan pertama dalam kuliah penerapan komputer, Kedepannya semoga memang dapat bermanfaat dan IPB kembali menambah dukungan menuju wordclass University.

alhamdulillah…..

2010
07.28

Ada Makna yang penting dari sebuah perjuangan……

Betul – betul….

ketika menuju sebuah pedalaman yang jauh dari peradaban,

kita akan menemukan sebuah hal yang baru.

Walaupun lelah menempuh perjalanan jauh…..

Tapi kita akan di sambut dengan senyuman.

Kisah Inspiratif

2010
07.26

Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut.

Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik.

Ada seorang anak menjadi murid di toko sepeda. Suatu saat ada seseorang yang mengantarkan sepeda rusak untuk diperbaiki di toko tersebut. Selain memperbaiki sepeda tersebut, si anak ini juga membersihkan sepeda hingga bersih mengkilap. Murid-murid lain menertawakan perbuatannya. Keesokan hari setelah sang empunya sepeda mengambil sepedanya, si adik kecil ditarik/diambil kerja di tempatnya.